Di dunia yang ditandai dengan ribuan bahasa, budaya, dan bangsa, satu pertanyaan terus membentuk misi Gereja: Bagaimana satu Injil Yesus Kristus dapat menjangkau setiap bangsa?
Pada bulan Juli ini, Lutheran Leader's Companion akan menyelenggarakan kursus global selama tiga minggu yang dirancang untuk menggali pertanyaan tersebut — secara Alkitabiah, konfesional, dan praktis. Dengan judul "Satu Injil, Setiap Bahasa," studi Alkitab langsung dan multibahasa ini mempertemukan para pemimpin dari seluruh dunia untuk merenungkan karya Allah melintasi bahasa-bahasa — dari Babel hingga Pentakosta, hingga pertemuan akhir di hadapan takhta.
Kursus ini lebih dari sekadar studi. Ia juga merupakan demonstrasi langsung dari apa yang kini menjadi mungkin: pengajaran yang setia disampaikan melintasi hambatan bahasa secara waktu nyata.
Mengapa Kursus Ini Penting
Sejak permulaan, bahasa telah memainkan peran sentral dalam hubungan Allah dengan umat manusia.
Di Babel, bahasa-bahasa dikacaubalaukan dan bangsa-bangsa diserakkan. Pada Pentakosta, bahasa-bahasa dijembatani agar Injil dapat didengar. Dalam Wahyu, setiap bahasa berkumpul dalam penyembahan di hadapan Anak Domba.
Kursus tiga minggu ini mengikuti alur tersebut, membantu para pemimpin Lutheran memahami bukan hanya teologi bahasa — tetapi juga tempat mereka di dalam misi Allah yang sedang berlangsung.
Pada saat yang sama, kursus ini menampilkan suatu kenyataan baru: melalui teknologi multibahasa, para pemimpin kini dapat mengajar, belajar, dan bekerja sama melintasi bahasa-bahasa dengan cara yang sebelumnya tidak mungkin.
Format Kursus
Para peserta dapat mendengar dan berpartisipasi dalam pengajaran dengan bahasa mereka sendiri, sekalipun pengajar mengajar dalam bahasa lain.
Jadwal Sementara
Penghakiman di Babel
Kejadian 11
Umat manusia, bersatu dalam pemberontakan, berusaha "membuat nama" bagi diri mereka sendiri. Allah turun tangan — tidak hanya dalam penghakiman, tetapi juga dalam belas kasihan — menyerakkan manusia ke seluruh bumi dan mengacaubalaukan bahasa mereka.
Sesi ini menggali:
Para pemimpin masa kini terus melayani di dunia yang dihasilkan oleh Babel — dunia dengan hambatan bahasa dan budaya yang nyata.
Mukjizat di Pentakosta
Kisah Para Rasul 2
Pada hari Pentakosta, Allah melakukan sesuatu yang luar biasa.
Ia tidak menghapuskan perbedaan bahasa. Ia tidak menciptakan bahasa universal yang baru.
Sebaliknya, Roh Kudus memastikan bahwa setiap orang mendengar Injil dalam bahasanya sendiri.
Sesi ini menyoroti:
Dari Pentakosta hingga penerjemahan Kitab Suci oleh Luther, Gereja selalu menegaskan bahwa Firman harus didengar dan dipahami. Hal ini bukan sekadar praktis — ia bersifat konfesional.
Keyakinan yang sama kini menggerakkan pelayanan multibahasa di masa kini.
Setiap Bangsa di Hadapan Takhta
Wahyu 7
Sesi terakhir menatap ke depan, ke Wahyu 7. Di sana, Yohanes melihat suatu kumpulan besar:
Tidak dihapuskan. Tidak diseragamkan. Tetapi dipersatukan dalam penyembahan di sekeliling Anak Domba.
Sesi ini menghubungkan:
Dari jalan-jalan Romawi hingga mesin cetak dan platform digital, Allah senantiasa menyediakan sarana untuk penyebaran Firman-Nya. Hari ini, teknologi multibahasa menjadi sarana lain yang harus dikelola dengan bijak — tidak pernah menggantikan karya Roh, tetapi melayaninya.

0 Komentar