Artikel
Saksi Mata Sejarah: Konsili Nicea dalam Sumber-Sumber Kuno
Memperingati 1700 tahun Konsili Nicea · Bagian 1 dari 3
Pendeta Dr. Glen L. Thompson
Wisconsin Lutheran Quarterly, Vol. 122, No. 4 (Musim Gugur 2025) · Bagian 1 · Bagian 2 · Bagian 3
Karena belakangan ini muncul sejumlah klaim tentang apa yang sebenarnya terjadi di Konsili Nicea, atau tentang apakah kita sungguh dapat mengetahui lebih dari sekadar dugaan mengenai jalannya persidangan, kajian berikut dimaksudkan untuk memeriksa kesaksian-kesaksian langsung guna melihat apa yang disampaikannya kepada kita tentang peristiwa itu.1 Dalam karyanya Dialog Melawan Kaum Luciferian, yang ditulis sekitar tahun 380, Santo Hieronimus menulis bahwa orang dapat “membaca akta-akta [acta] dan nama-nama para uskup Konsili Nicea.”2 Sekitar tujuh puluh lima tahun kemudian, sejarawan gereja Sozomen, ketika menulis tentang peristiwa-peristiwa pada tahun-tahun sesudah konsili, menceritakan suatu kejadian ketika dua tokoh pro-Arius, Eusebius dari Nikomedia dan Theognis dari Nicea, “menyuap notaris yang telah dipercayai kaisar untuk menyimpan dokumen-dokumen Konsili Nicea, lalu menghapus tanda tangan [mereka sendiri].”3 Catatan-catatan ini menyiratkan bahwa semacam notulen atau catatan resmi dari konsili yang termasyhur itu pernah dibuat, dan bahwa catatan-catatan itu sempat beredar sesudah tahun 325. Namun sayangnya, semuanya telah hilang selama berabad-abad. Yang masih kita miliki adalah laporan dan kenang-kenangan dari tiga orang peserta—Kaisar Konstantinus, Eusebius dari Kaisarea, dan Athanasius dari Aleksandria—serta sebuah catatan yang sangat singkat dari Eustathius dari Antiokhia. Kita juga memiliki sepucuk surat yang ditulis atas nama konsili itu sendiri. Selain beberapa catatan lain yang tersebar, para sejarawan harus melengkapi sisa kisah peristiwa penting ini dari laporan naratif dengan panjang yang beragam oleh tujuh sejarawan Kristen kuno yang hidup dan menulis dalam satu setengah abad sesudah konsili.
Ketiga saksi mata utama kita merupakan trio yang ganjil, dan hal ini dapat digambarkan dengan membicarakan peran mereka masing-masing dalam konsili. Konstantinus-lah yang memanggil konsili itu, tetapi jelas ia bukan peserta biasa. Meskipun ia hadir pada pembukaan dan pada bagian-bagian lain dari persidangan, ia bukan anggota yang memiliki hak suara. Namun jelas bahwa kehadirannya sangat terasa, dan pendapatnya memang berpengaruh. Athanasius pada waktu itu adalah seorang diaken muda, sehingga ia hanya berperan sebagai penasihat, dan mungkin juga sebagai juru tulis, bagi uskupnya, Aleksander. Karena itu, pengaruhnya mungkin tidak terletak dalam sidang-sidang resmi konsili. Terakhir, ada Eusebius dari Kaisarea, satu-satunya dari ketiganya yang merupakan peserta resmi dan yang tampil sebagai salah satu tokoh terpenting dalam persidangan. Namun, seperti akan kita lihat, ia sudah dicurigai menganut Arianisme ketika konsili dimulai, dan baru pada akhirnya dapat memulihkan nama baiknya setelah bersedia menandatangani kredo yang baru disusun. Dengan demikian, tidak satu pun dari ketiganya termasuk di antara 250 atau lebih uskup peserta “biasa” yang hadir.4 Dalam uraian berikut kita akan memusatkan perhatian pada apa yang disampaikan oleh tulisan-tulisan yang masih ada dari masing-masing ketiga tokoh ini tentang konsili tersebut.
Konstantinus, Sang Kaisar
Hubungan awal Konstantinus dengan iman dan gereja telah menjadi sumber spekulasi yang tak berkesudahan. Apakah ia bertobat karena alasan politik? Kapan ia melihat penglihatannya yang terkenal di langit? Jika ia memang menjadi orang percaya sejati, kapan hal itu terjadi? Penelitian mutakhir kini memungkinkan kita menyusun suatu kronologi dan narasi yang meyakinkan tentang Konstantinus dan hubungannya dengan gereja dalam dua dasawarsa sebelum konsili bersidang. Saya akan meninjau kronologi ini secara singkat karena peristiwa-peristiwa tersebut memengaruhi sikap kaisar terhadap pertemuan di Nicea serta tujuan-tujuannya bagi pertemuan itu.
Sejarawan Romawi Werner Eck berperan penting dalam menunjukkan bagaimana Konstantinus menghentikan setiap penganiayaan terhadap orang Kristen di wilayahnya segera setelah ia berkuasa di ujung Barat pada tahun 306, meskipun di beberapa tempat hal itu mungkin baru berlaku ketika ia secara fisik menguasai wilayah tersebut, provinsi demi provinsi, pada tahun-tahun berikutnya.5 Mula-mula ia bergerak ke selatan melalui Germania dan Galia; kemungkinan besar penglihatannya tentang salib surgawi atau chi-rho terjadi di Galia pada pertengahan tahun 310. Kemudian ia meluangkan waktu untuk merenungkan makna penglihatan itu dan membicarakannya dengan para ahli agama Kristen setempat, yaitu para uskup. Ia berada di Autun pada musim semi tahun 311 dan sangat mungkin pada waktu itu berkonsultasi dengan uskupnya, Reticius. Ia juga berkali-kali mengunjungi Arles di Gallia Narbonensis dan membangun sebuah jembatan di Köln, sehingga ia berada dalam lingkup pengaruh Marinus dan Maternus, para uskup ternama dari kedua kota tersebut.
Di antara uraiannya tentang penglihatan itu dan pertempuran tahun 312 yang memenangkan kota Roma sendiri bagi Konstantinus, Eusebius menyatakan bahwa kaisar, setelah bertekad untuk tidak menyembah allah lain mana pun, “memanggil orang-orang yang memahami misteri-misteri ajaran-Nya, dan menanyakan siapakah Allah itu, dan apa yang dimaksudkan dengan tanda dalam penglihatan yang telah dilihatnya.”6 Hosius dari Cordoba tampaknya juga bergabung dengan rombongan Konstantinus sebagai semacam penasihat rohani atau pendeta istana pada masa ini, suatu kedudukan yang dipegangnya hingga menjelang akhir hidup kaisar.7 Setidaknya sebagian sebagai hasil dari konsultasi-konsultasi ini pada tahun-tahun menjelang kemenangan di Jembatan Milvius, Konstantinus menjadi yakin bahwa penglihatan chi-rho surgawinya berasal dari Allah orang Kristen dan merupakan tanda perkenanan serta pengurapan-Nya.
Setelah pertempuran itu, kaisar tinggal beberapa bulan di Roma dan berkenalan dengan para pemimpin gereja Roma, termasuk Uskup Miltiades.8 Dengan kekalahan Magnentius, Konstantinus kini memerintah seluruh kekaisaran barat, termasuk Afrika Utara, sehingga sekali lagi ia segera mengeluarkan perintah tentang toleransi beragama dan pemulihan umum harta milik gereja di seluruh wilayah barunya ini juga.
Namun, setelah melanjutkan perjalanannya pada awal tahun 313, Konstantinus mulai menerima permohonan banding dari kaum Donatis di Afrika Utara yang mengeluh bahwa mereka tidak memperoleh bagian mereka dari harta yang dipulihkan, serta melontarkan tuduhan-tuduhan lain terhadap Uskup Caecilianus dari gereja katolik. Karena tidak puas dengan pengadilan setempat, mereka mengajukan banding langsung kepada kaisar agar perkara itu disidangkan oleh hakim-hakim dari Galia. Konstantinus menyetujuinya dan menunjuk ketiga uskup Galia yang telah disebutkan di atas—Reticius, Maternus, dan Marinus—untuk bertugas dalam kapasitas itu, tetapi juga memutuskan bahwa kenalan barunya, Uskup Roma Miltiades, harus memimpin sidang di Roma. Uskup Roma itu pada gilirannya mengundang lima belas uskup lagi untuk ikut serta, sehingga sidang pengadilan itu sekaligus menjadi sebuah konsili gereja regional. Pada bulan Oktober 313 sidang itu membebaskan Caecilianus dari semua tuduhan.9 Kaum Donatis kemudian sekali lagi naik banding kepada kaisar, yang mengakibatkan diadakannya konsili kedua di Arles pada tahun 314. Kali ini kaisar sendiri dan lebih dari dua puluh empat uskup hadir, tetapi sekali lagi putusannya merugikan pihak penggugat.10 Dengan demikian, sepuluh tahun penuh sebelum Konsili Nicea, Konstantinus sudah sepenuhnya menyadari adanya perpecahan gereja di Afrika Utara dan mungkin juga perpecahan serupa oleh kaum Novatian di Roma sendiri. Menjelang tahun 325, kelompok ketiga telah terbentuk di Mesir—kaum Melitian.
Tampaknya “konsili-konsili” awal di Roma dan Arles ini dimaksudkan oleh Konstantinus sebagai sidang-sidang pengadilan menurut proses hukum Romawi yang biasa, hanya saja dipimpin oleh para uskup gereja dan bukan oleh pejabat pemerintahan sekuler. Akan tetapi, para uskup yang memimpin memperbesar jumlah pesertanya dengan mengundang uskup-uskup lain dari wilayah itu, sehingga sidang itu sekaligus menjadi konsili gereja regional atau provinsial. Menjelang tahun 318, Konstantinus secara resmi memberi orang Kristen pilihan untuk membawa perkara ke pengadilan gereja alih-alih kepada hakim sekuler; putusan pengadilan-pengadilan keuskupan ini mengikat secara hukum dan tidak dapat dibanding.11 Jadi, dalam dasawarsa antara Jembatan Milvius dan Nicea, Konstantinus secara bertahap memperoleh pengalaman pribadi dengan konsili-konsili gereja lokal dan provinsial yang lebih kecil, serta dengan masalah-masalah internal gereja. Ketika ia memanggil sebuah konsili besar bagi seluruh gereja pada tahun 325, hal itu merupakan upaya bukan hanya untuk menyelesaikan persoalan-persoalan gerejawi yang besar, melainkan juga untuk melakukannya di tempat konsili-konsili yang lebih kecil telah gagal—dan melakukannya dalam format yang selaras dengan asas keadilan dan ketidakberpihakan tradisi hukum Romawi.
Seabad yang lalu, teks-teks yang berkaitan dengan perkembangan ini, yang didaftarkan dan diberi nomor menurut urutan kronologis sebagai Urkunden (Urk.), dihimpun secara praktis oleh H.-G. Opitz dalam jilid ketiga karyanya Athanasius Werke. Teks-teks ini beserta terjemahan bahasa Inggrisnya kini tersedia di situs web www.fourthcentury.com, bersama dengan pengantar singkat serta kronologi-kronologi yang saling bersaing dari Opitz, Rowan Williams, Sara Parvis, dan yang terbaru, Uta Heil dkk. dalam kelanjutan seri Athanasius Werke terbitan Berlin (jilid 3.3).12 Dalam uraian berikut saya akan mengutip dokumen-dokumen ini dengan menggunakan penomoran Dok. dari terbitan Berlin yang baru itu.13
Kesaksian Konstantinus tentang konsili Nicea hampir seluruhnya berasal dari surat-surat yang dikeluarkannya, khususnya sepuluh surat yang secara langsung membahas konsili itu dan akibat-akibatnya, dan yang dikeluarkannya antara akhir tahun 324 dan awal tahun 328. Surat Konstantinus paling awal yang masih terpelihara dan yang secara langsung membahas masalah Arius ditulis kepada Aleksander dari Aleksandria dan kepada Arius sekaligus, dalam upaya yang sia-sia untuk menyelesaikan pertikaian itu tanpa konsili; surat itu dibawa ke Aleksandria oleh Hosius dari Cordova pada akhir tahun 324.14 Setelah mengetahui kegagalan misi ini, kaisar mengeluarkan surat lain, yang kini telah hilang, yang memanggil sebuah konsili umum untuk bersidang di Ancyra pada musim panas tahun 325. Pada awal tahun 325, ia mengirimkan surat ketiga yang memindahkan tempat pertemuan ke Nicea, sebuah surat yang hanya terpelihara dalam bahasa Suryani.15 Tawarannya untuk menanggung biaya perjalanan menunjukkan bahwa ia sungguh-sungguh menghendaki kehadiran peserta dalam jumlah besar.
Enam surat kaisar yang ditulis dalam minggu-minggu dan bulan-bulan segera sesudah konsili masih terpelihara. Di antaranya terdapat surat kekaisaran yang cukup panjang yang ditujukan kepada Arius, yang di dalamnya kaisar memberikan dukungan penuhnya kepada kristologi konsili dan mendesak Arius untuk menarik kembali ajarannya.16 Beberapa bulan kemudian, ketika Arius tidak menanggapi, kaisar menerbitkan sebuah dekret yang mengukuhkan keputusan konsili untuk memecat si bidat dan memerintahkan agar semua tulisan Arius dibakar dengan ancaman hukuman mati.17
Sekitar waktu yang sama, sepucuk surat yang ditujukan kepada gereja di Aleksandria menegaskan kejatuhan Arius dan mendesak gereja itu untuk mengikuti keputusan-keputusan konsili, sebab “penilaian bersama tiga ratus uskup tidak mungkin lain daripada ajaran Allah.”18 Surat serupa dikirimkan kepada gereja Nikomedia, karena uskup mereka, Eusebius, “tanpa malu” telah bersekutu “dengan kepalsuan yang sama sekali telah tercela ini” milik Arius! “Jika,” lanjut kaisar, “ada orang yang dengan bodoh berani memuji atau bahkan mengenang dengan penuh kasih para perusak itu, ia akan dikekang . . . melalui tindakan hamba Allah, yaitu oleh aku.”19 Sebuah surat kekaisaran lainnya dikirimkan kepada Theodotus dari Laodikia, seorang pendukung Arius yang tampaknya tidak hadir di Nicea, untuk memperingatkannya agar tidak lagi dipengaruhi oleh Arius dan para pendukungnya.20 Dua surat kaisar yang lain berasal dari waktu yang sedikit lebih kemudian, masing-masing dari akhir tahun 326 dan tahun 327, dan menunjukkan bahwa kaisar masih belum menyerah untuk memulihkan kesatuan di dalam gereja melalui pemulihan Arius yang tampaknya telah bertobat.21
Satu surat lain, yang berasal dari minggu-minggu sesudah konsili, ditujukan kepada gereja-gereja di seluruh kekaisaran secara umum.22 Konstantinus sekali lagi menyatakan dengan jelas bahwa tujuannya di atas segala-galanya adalah “agar satu iman, kasih yang tulus, dan kesalehan yang tak berubah kepada Allah Yang Mahakuasa dipelihara di antara himpunan-himpunan gereja katolik yang paling berbahagia” (3.17.1). Seperti dalam surat-surat lainnya, ia menyebut dirinya συνθεράπων ὑμέτερος, “sesama hambamu” (3.17.2). Kaisar kemudian mencurahkan sebagian besar surat itu untuk membahas perbedaan-perbedaan yang telah lama menggerogoti gereja mengenai kebiasaan-kebiasaan yang saling bersaing dalam merayakan Paskah.23 Dalam suratnya, Konstantinus menegaskan bahwa dalam hal ini pun konsili telah mencapai kesepakatan.24
Kesaksian Konstantinus
Setelah menguraikan secara garis besar situasi di sekitar surat-surat Konstantinus ini, kini kita dapat beralih kepada apa yang secara khusus dikatakan surat-surat itu tentang konsili.
Dalam suratnya yang memindahkan tempat sidang ke Nicea, kaisar menyebutkan tiga alasan untuk pemindahan itu: “karena para uskup dari Italia dan dari negeri-negeri Eropa lainnya akan datang, karena suhu udaranya yang sangat baik, dan supaya aku sendiri dapat hadir sebagai penonton dan peserta [κοινωνὸς] dalam apa yang akan dilakukan” (Dok. 22.2). Tampaknya tujuan pertama tidak tercapai, sebab sejauh yang kita ketahui, satu-satunya uskup dari barat yang hadir adalah seorang uskup dari Italia (selain dua imam yang mewakili uskup Roma), seorang dari Spanyol, seorang dari Galia, dan seorang dari Afrika Prokonsularis (Kartago).
Dalam suratnya kepada gereja-gereja (Dok. 30) yang ditulis tak lama sesudah konsili, Konstantinus mengawali dengan menyatakan alasan diadakannya persidangan itu. Prioritas utamanya, katanya, adalah agar “kesatuan iman, ketulusan kasih, dan kebulatan hati dalam kesalehan untuk beribadah kepada Allah Yang Mahakuasa dapat dipelihara di antara himpunan-himpunan gereja katolik yang paling berbahagia” (Vit. Const. 3.17.1). Ia menyimpulkan bahwa hal ini menuntut agar “semua uskup, atau setidaknya sebagian besar dari mereka, dikumpulkan di satu tempat untuk suatu konsili tempat mereka dapat membahas setiap pokok agama kita yang mahakudus. Maka kami mengumpulkan sebanyak mungkin, dan aku sendiri pun hadir sebagai salah seorang dari kamu; sebab aku tidak akan menyangkal apa yang secara khusus membuatku bersukacita—bahwa aku adalah sesama hambamu” (3.17.2).
Namun, ia kemudian hanya memberikan sangat sedikit rincian tentang jalannya persidangan yang sebenarnya: “Semua pokok kemudian diselidiki dengan saksama, sampai tersingkaplah suatu keputusan yang didapati berkenan kepada Dia yang mengawasi segala sesuatu, dan yang menghasilkan kesepakatan bulat, tanpa menyisakan apa pun yang dapat menimbulkan perselisihan atau pertikaian dalam perkara-perkara iman” (3.17.2).
Hanya mengenai persoalan-persoalan seputar Paskah ia memberikan uraian lebih lanjut. Dalam konsili itu “pertanyaan tentang hari kita yang paling kudus, Paskah, juga dibahas, dan diputuskan dengan persetujuan bersama bahwa semua orang, di mana pun, harus merayakannya pada satu hari yang sama” (3.18.1), yaitu bahwa semua gereja harus mengikuti kebiasaan yang dijalankan “di kota Roma, di seluruh Italia, Afrika, seluruh Mesir, Spanyol, Prancis, Britania, Libia, seluruh Yunani, dan dioses-dioses Asia, Pontus, dan Kilikia” (3.19.1). Di antara kedua pernyataan ini Konstantinus menguraikan beberapa segi dari masalah itu—bahwa menurut sebagian perhitungan, Paskah kadang-kadang dapat jatuh dua kali dalam tahun yang sama (3.18.4), dan bahwa ketika tanggal Paskah yang berbeda-beda digunakan, orang Kristen di beberapa tempat sudah menikmati perayaan masa sesudah Paskah sementara di tempat-tempat lain orang Kristen masih menjalani pertobatan dan puasa masa Prapaskah (3.18.6). Selain itu, mungkin sebagai cerminan dari pembahasan dalam konsili, ia menyatakan bahwa metode yang tepat dan seragam untuk menghitung tanggal Paskah dan merayakannya berasal dari Kristus dan para rasul-Nya (3.18.2–3), bahwa penyelesaian yang diambil konsili akan memisahkan gereja secara lebih jelas dari orang Yahudi dan perayaan-perayaan mereka (3.18.3–4), bahwa hal itu akan membantu gereja tetap bersatu meskipun anggota-anggotanya tersebar begitu luas secara geografis (3.18.5), dan bahwa cara itu sudah dijalankan di wilayah-wilayah gereja yang luas (3.19.1). Akhirnya ia menyatakan bahwa “apa pun yang diputuskan dalam himpunan-himpunan kudus para uskup harus dipandang sebagai petunjuk kehendak ilahi” (3.20.1)—suatu pendirian yang akan terus dipegangnya di kemudian hari, sementara pada saat yang sama ia harus menghadapi kenyataan konsili-konsili yang saling bertentangan beserta keputusan-keputusannya yang sering kali saling berlawanan.
Dalam suratnya kepada jemaat Aleksandria (Dok. 29 = Decr. 38.1–9), yang juga ditulis tak lama sesudah konsili, ia menyampaikan sedikit lebih banyak tentang perdebatan-perdebatan lain yang telah berlangsung di Nicea:
Semua pokok yang tampak meragukan atau yang mungkin dapat menimbulkan perselisihan telah dibahas dan diperiksa dengan cermat. Kiranya Keagungan ilahi mengampuni hujatan-hujatan yang sungguh sangat banyak jumlahnya, yang dengan tanpa malu diucapkan oleh sebagian orang terhadap Juruselamat kita yang perkasa, hidup dan pengharapan kita, ketika mereka menyatakan dan mengakui hal-hal yang bertentangan dengan Kitab Suci yang diilhamkan secara ilahi. Lebih dari tiga ratus uskup, yang terkemuka karena kesahajaan dan ketajaman pikiran mereka, dengan suara bulat meneguhkan satu iman yang sama, iman yang timbul selaras dengan kebenaran-kebenaran Hukum Allah. Hanya Arius seorang yang telah disesatkan oleh Iblis, dan didapati sebagai satu-satunya orang yang bertekad memajukan kejahatan yang fasik ini, mula-mula di antara kamu, dan kemudian juga di antara orang-orang lain. . . . Putusan ini, yang dibuat berdasarkan penilaian bersama tiga ratus uskup, tidak mungkin lain daripada ajaran Allah, terlebih lagi karena Roh Kudus telah menerangi kehendak ilahi dengan menanamkannya dalam pikiran begitu banyak orang yang terhormat. (4–5, 8)
Pembahasan yang menyeluruh atas persoalan-persoalan kristologis, pembelaan gagasan-gagasan Arius oleh sebagian orang yang hadir, kesepakatan yang akhirnya dicapai mengenai ajaran alkitabiah, dan penghukuman atas Arius beserta keyakinan-keyakinannya—semua segi konsili ini mendapat kesaksian. Dan kaisar pulang dengan keyakinan bahwa hikmat bersama konsili itu telah diilhamkan oleh Allah sendiri.
Sebuah surat kekaisaran lain yang ditulis tak lama kemudian ditujukan kepada gereja di Nikomedia (Dok. 31 = Decr. 41.1–17), dan di dalamnya Konstantinus menguraikan urusannya dengan uskup mereka, Eusebius, yang hanya dengan berat hati menandatangani ketetapan konsili. Eusebius ini, yang tidak boleh dikacaukan dengan sejarawan gereja yang juga uskup Kaisarea, semula adalah uskup Berytus (Beirut) dan menjadi uskup Nikomedia suatu saat sesudah tahun 314. Di sana ia menjalin hubungan akrab dengan Licinius, Augustus yang bertakhta di Kekaisaran Timur, dan istrinya, Constantia, saudari Konstantinus. Hubungan Eusebius dengan Licinius menjadi beban ketika Licinius dikalahkan oleh Konstantinus pada tahun 324. Dalam surat ini, Konstantinus mengatakan bahwa Eusebius telah “turut serta dalam kebengisan sang tiran” dan bahwa “banyak keadaan dengan jelas menunjukkan kepada kita bahwa ia sepenuhnya berada di bawah perlindungan sang tiran” (9). Lebih tajam lagi: “Pada saat bentrokan antara kedua pasukan yang berhadapan sudah di ambang pintu, ia diam-diam mengirim ‘mata-mata’ untuk memata-matai aku, dan nyaris saja memberikan bantuan bersenjata kepada sang tiran” (10).
Dalam surat ini, Konstantinus berusaha menunjukkan kepada umat di Nikomedia bahwa masa lalu politik uskup mereka yang bercela sejalan dengan kesesatan teologisnya. Ia melakukannya dengan mengatakan kepada para rohaniwan bahwa dalam konsili itu, “yang kuhadiri sendiri, sebagaimana dituntut oleh hati nuraniku,” “satu-satunya keinginanku adalah menegakkan kesatuan yang sempurna, dan khususnya menyanggah dan menyingkirkan persoalan ini, yang bermula dari kegilaan Arius orang Aleksandria itu, tetapi dengan cepat menjadi kuat melalui pembelaan Eusebius yang jahat dan merusak” (13).25 Ia melanjutkan:
Sahabat-sahabatku yang terkasih dan paling terhormat, betapa gigihnya (sebab hati nuraninya sendiri telah menghukumnya) dan betapa tanpa malunya orang ini, Eusebius, bersekutu dengan kepalsuan yang sama sekali telah tercela ini! Secara diam-diam ia mengutus orang-orang lain sebagai utusan untuk membujukku, dan ia meminta dukunganku sampai batas tertentu, karena ia takut bahwa jika ia ketahuan melakukan dosa sebesar itu, ia akan diusir dari jabatannya yang terhormat. Allah adalah saksiku dalam hal ini (kiranya Ia terus melimpahkan kebaikan-Nya kepadaku dan kepadamu), sebab Eusebius telah memutarbalikkan penilaianku dan memperdayaku dengan cara yang licik, sebagaimana kamu pun akan mengetahuinya. Pada waktu itu, segala sesuatu dilakukan sesuai dengan kehendaknya, dan ia menyembunyikan semua niat jahatnya di dalam pikirannya sendiri. (14)
Upaya-upaya diam-diam untuk memengaruhi kaisar ini pasti dilakukan oleh Eusebius dan sekutu-sekutu Arius yang lain, entah tepat sebelum konsili atau, lebih mungkin, selama perdebatan-perdebatan dalam konsili. Kenyataan bahwa Eusebius “menyembunyikan” pendiriannya yang sebenarnya didukung oleh penulis-penulis kuno lainnya.26 Akhirnya, bahkan setelah konsili memberikan putusan atas perkara itu, Eusebius dan rekannya, Theognis dari Nicea, terus mendukung Arius dan orang-orang lain yang telah dikenai anatema tetapi masih “mengipasi api perpecahan hingga berkobar” (15), dan karena itu Konstantinus membuang mereka juga (16).27
Uraian-uraian Konstantinus ini sangat berharga karena ditulis begitu dekat dengan peristiwa-peristiwanya. Selebihnya, kita hanya dapat melihat sekilas peristiwa-peristiwa itu di dalam konteks sastra yang lebih luas dari para sejarawan gereja abad kelima, yang juga tidak selalu netral. Namun, seperti akan kita lihat, apa yang dikatakan kaisar sangat cocok dengan gambaran yang diberikan kepada kita oleh saksi-saksi mata kita yang lain.
Barangkali kita juga perlu mencatat satu hal yang tidak terdapat dalam kesaksian Konstantinus sendiri maupun dalam kesaksian saksi mata kita yang lain mana pun. Dalam beberapa dasawarsa terakhir sering dikatakan bahwa Konstantinus memengaruhi konsili untuk menetapkan suatu kanon PB tertentu. Klaim ini secara longgar didasarkan pada sebuah surat yang di dalamnya Konstantinus meminta Eusebius dari Kaisarea untuk menyiapkan lima puluh salinan mewah Kitab Suci (τῶν θείων γραφῶν) bagi gereja yang sedang berkembang di ibu kota barunya, Konstantinopel.28 Eusebius menempatkan surat ini dalam buku 4, semacam lampiran bagi biografinya tentang kaisar, bersama surat-surat lain yang menunjukkan kepedulian kaisar terhadap gereja, sehingga sulit untuk menentukan tanggalnya. Namun, karena surat itu menegaskan bahwa ibu kota baru itu sedang berkembang pesat, surat itu pastilah berasal dari beberapa tahun sesudah peresmian kota itu pada tahun 330. Surat itu juga sama sekali tidak menyebut PB atau persoalan kanon apa pun, ataupun Nicea. Sokrates Scholasticus, yang menyusun Sejarah Gereja-nya seabad kemudian, menempatkan surat itu tepat sesudah keempat surat Konstantinus dari akhir konsili (Dok. 25, 28–30) dengan judul sederhana “Surat lain.” Hal inilah yang tampaknya membuka jalan bagi klaim-klaim keliru bahwa konsili membahas dan memutuskan kanon PB dengan masukan dari Konstantinus. Tidak ada apa pun dalam sumber-sumber kuno yang mendukung hal ini.
Bersambung di Bagian 2 →
Catatan
1 Sepanjang uraian ini kita juga akan mengutip sejarah-sejarah gereja karya Sokrates (Scholasticus), Sozomen, Theodoretus, Rufinus, Philostorgius, dan yang disebut Sejarah Gereja Anonim (CPG 6034, yang sering keliru dianggap karya Gelasius dari Kizikus). Kecuali dinyatakan lain, artikel ini selalu merujuk pada sejarah gereja (Hist. eccl.) masing-masing penulis, dan kami hanya akan mencantumkan nomor buku dan bagiannya. Untuk Eusebius kami akan membedakan antara Sejarah Gereja (Hist. eccl.) dan Riwayat Hidup Konstantinus (Vit. Const.) karyanya.
2 Komentar ini terdapat dalam bab 20, di mana Hieronimus berargumen bahwa kaum Luciferian seharusnya menunjukkan pengampunan kepada lawan-lawan mereka yang telah bertobat. Ia kemudian merujuk pada Nicea sebagai dukungan, karena kaum Arian diizinkan bertobat dan diterima kembali.
3 Εὐσέβιος ὁ Νικομηδείας ἐπίσκοπος καὶ Θεόγνιος ὁ Νικαίας παραπείσαντες τὸν ὑπὸ τοῦ βασιλέως ἐπιτραπέντα φυλάττειν τὴν γραφὴν τῆς ἐν Νικαίᾳ συνόδου ἀπήλειψαν τὰς ἑαυτῶν ὑπογραφὰς (Eccl. hist. 2.21.6).
4 Mengenai jumlah uskup, lihat di bawah.
5 Lihat Werner Eck, “Eine historische Zeitenwende: Kaiser Constantins Hinwendung zum Christentum und die gallischen Bischöfe,” dalam Konstantin der Grosse: Kaiser einer Epochenwende, ed. F. Schuller dan H. Wolff (Lindenberg: Kunstverlag Josef Fink, 2007), 69–94. Mengenai perjalanan-perjalanan Konstantinus sebelum Nicea, lihat T. D. Barnes, The New Empire of Diocletian and Constantine (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1982), 68–76.
6 τοὺς τῶν αὐτοῦ λόγων μύστας ἀνεκαλεῖτο, καὶ τίς εἴη θεὸς [οὗτος] ἡρώτα τίς τε ὁ τῆς ὀφθείσης ὄψεως τοῦ σημείου λόγος (Eusebius, Vit. Const. 1.32).
7 Eusebius, Hist. eccl. 10.6.1–3.
8 Ia memasuki kota itu pada 29 Oktober 312 dan sudah berada di Milano pada pertengahan Januari 313. Richard Krautheimer (Corpus basilicarum christianarum Romae [Pontificio istituto di archeologia cristiana, 1937–77], 5:10, 90), John Curran (Pagan City and Christian Capital: Rome in the Fourth Century [Oxford University Press, 1999], 93–95), dan para ahli lain berpendapat bahwa suatu dedicatio—penyerahan properti kekaisaran Lateran di Roma kepada gereja untuk keperluan pembangunan sebuah basilika Kristen—terjadi pada 9 November 312, hanya dua minggu setelah Konstantinus memasuki Roma. Pada hakikatnya, ini merupakan persembahan syukur ex voto dari kaisar atas kemenangannya.
9 Optatus dari Milevis, Melawan Kaum Donatis 1.23.
10 Kanon-kanonnya masih terpelihara, demikian pula sepucuk surat dari konsili itu kepada Silvester yang juga mencantumkan sebagian uskup yang hadir (keduanya diedit oleh C. Munier, Concilia Galliae a.314–a.506 [Brepols, 1963], 4–13).
11 Kodeks Theodosianus 1.27.1. Untuk komentar tentang perkembangan ini, lihat John Dillon, The Justice of Constantine: Law, Communication, and Control (Ann Arbor: University of Michigan Press, 2012), 147–54.
12 Karya aslinya adalah H.-G. Opitz, Athanasius Werke 3.1.1–2 (Berlin: de Gruyter, 1934). Karena sebagian besar dokumen tidak bertanggal, para ahli lain sejak itu telah mengusulkan alternatif bagi kronologi yang diajukan Opitz; lihat khususnya Rowan Williams, Arius: Heresy and Tradition, ed. rev. (Grand Rapids: Eerdmans, 2002); Sara Parvis, Marcellus of Ancyra and the Lost Years of the Arian Controversy, 325–345 (Oxford: Oxford University Press, 2006); H. C. Brennecke, U. Heil, dkk., Dokumente zur Geschichte des Arianischen Streites (Athanasius Werke 3.1.3 [Berlin: de Gruyter, 2007]). Analisis Heil terdapat pada hlm. xix–xxxviii. Kami akan mengikuti kronologi jilid ini dan mengutip setiap dokumen menurut nomor Dokumenten (Dok.) yang diberikan kepadanya. Lihat bagan ikhtisar di https://www.fourthcentury.com/documents-of-the-early-arian-controversy/.
13 Perlu dicatat bahwa meskipun jilid Athanasius Werke 3.1.3 yang baru itu menyajikan terjemahan untuk semua Dokumenten, jilid itu tidak menyertakan teks aslinya, kecuali untuk beberapa dokumen tambahan yang mereka tambahkan pada daftar asli Opitz. Teks-teks asli beserta terjemahan berdampingan tersedia daring di situs www.fourthcentury.com.
14 Dok. 19 = Eusebius, Vit. Const. 2.64.
15 Dok. 22. Eduard Schwartz menerjemahkan balik teks Suryani yang masih ada ke dalam bahasa Yunani dalam tulisannya “Zur Geschichte des Athanasius, VI.,” dalam Nachrichten von der Königlichen Gesellschaft der Wissenschaften zu Göttingen, Philologisch-historische Klasse (Göttingen: Lüder Horstmann, 1905), 289; dicetak ulang dalam Eduard Schwartz, Gesammelte Schriften (Berlin: de Gruyter, 1959), 3:155–56.
16 Dok. 27 = Athanasius, Decr. (Pembelaan atas Definisi Nicea) 40. Permohonannya kepada Arius terdapat dalam bagian 17: “Arius yang baik, . . . tidakkah engkau mengerti bahwa engkau telah dikucilkan secara terbuka dari gereja Allah? Engkau binasa (ketahuilah itu dengan pasti), kecuali engkau, demi kebaikanmu sendiri, mengutuk kebodohanmu yang sekarang ini.”
17 Dok. 28 = Decr. 39.1–2.
18 Dok. 29 = Decr. 38.1–9; kutipan diambil dari bag. 8.
19 Dok. 31 = Decr. 41.1–17; kutipan-kutipan diambil dari bag. 14, 17.
20 Dok. 32 = Decr. 42.1–3.
21 Surat yang pertama, Dok. 33, yang tampaknya berasal dari waktu yang lebih kemudian pada tahun 327, hanya terpelihara oleh Sokrates (Hist. eccl. 1.25.7–8). Surat itu memberikan izin kepada Arius yang berada dalam pembuangan untuk datang ke istana kaisar guna mengupayakan kemungkinan rehabilitasi. Tampaknya Arius memang berhasil meyakinkan kaisar akan perubahan hatinya, sehingga kaisar menulis kepada Aleksander (Dok. 37, yang hanya terpelihara dalam Sejarah Gereja Anonim) dan memintanya, demi kesatuan, untuk menerima orang yang telah bertobat itu. Tampaknya ketika surat itu tiba, Aleksander sudah meninggal. Status Arius tetap menggantung hingga kematiannya beberapa tahun kemudian.
22 Dok. 30 = Eusebius, Vit. Const. 3.17–208.
23 Di Suriah, Mesopotamia, dan wilayah-wilayah lain di Timur, metode-metode tradisional Yahudi diikuti, sedangkan Barat yang berbahasa Latin dan Mesir menggunakan metode yang menjamin bahwa Paskah selalu jatuh pada hari Minggu. Pembahasan dengan intensitas yang berbeda-beda telah berlangsung selama hampir dua abad tanpa tercapai kesepakatan.
24 Dalam surat itu ia mendesak semua orang “untuk menerima penalaran yang telah terbukti sehat, dan untuk menetapkan perayaan hari yang paling kudus ini” (12). Seperti halnya dalam situasi Arius, kemajuan memang telah dicapai, tetapi gereja Kelt, misalnya, masih tidak sejalan dengan gereja Latin dalam hal ini selama tiga setengah abad berikutnya.
25 Setelah Arius dibuang sesudah Nicea, Eusebius dari Nikomedia mewarisi kepemimpinan para penganut teologi bercorak Arian di kekaisaran timur, sedemikian rupa sehingga kelompok itu kemudian dikenal sebagai “kaum Eusebian.” Lihat David M. Gwynn, The Eusebians: The Polemic of Athanasius of Alexandria and the Construction of the “Arian Controversy” (Oxford: Oxford University Press, 2007).
26 Barangkali yang paling menentukan adalah bahwa Philostorgius, yang menulis beberapa generasi kemudian dari sudut pandang kristologi Eunomian, mengakui bahwa Eusebius dan kaum Arian lainnya yang menandatangani kredo di Nicea melakukannya dengan bermuka dua (J. Bidez, ed., Philostorgius: Kirchengeschichte, GCS 21 [Berlin: de Gruyter, 1981], 1.9).
27 Surat Konstantinus kepada Theodotus dari Laodikia yang telah disebutkan sebelumnya (Dok. 32), yang ditulis dalam kurun waktu yang sama, mengulangi pokok yang sama: “Engkau dapat dengan mudah mengetahui hal ini dari apa yang telah menimpa Eusebius dan Theognius. Mereka memperlakukan agama yang mahakudus dengan kekerasan yang kasar dan mabuk, dan ketika mereka berada dalam lingkungan tertutup gerombolan perampok mereka, mereka terus mencemarkan nama Allah Juruselamat kita bahkan setelah mereka diberi pengampunan. Seharusnya mereka memperbaiki kesesatan mereka yang dahulu, terlebih lagi setelah kesepakatan penuh tercapai dalam konsili. Tetapi sebaliknya, pada waktu ini mereka didapati tetap berpegang teguh pada omong kosong mereka yang dahulu” (1).
28 Eusebius, Vit. Const. 4.36. Κατὰ τὴν ἐπώνυμον ἡμῖν πόλιν; surat ini juga terdapat dalam Sokrates, Hist. eccl. 1.9; Theodoretus, Hist. eccl. 1.16.1–4; Sejarah Gereja Anonim 3.4.1–5; Nicephorus, Hist. eccl. 8.27; dan Cassiodorus, Hist. tripart. 2.16.1–5.

0 Komentar