Artikel
Ia Datang untuk Menggenapi Nubuat
Bagian 1 dari 2
Pendeta Dr. John C. Lawrenz
Pertama kali disampaikan dalam sebuah simposium di Dr. Martin Luther College, 1993 · Bagian 1 · Bagian 2
Orang Kristen memiliki satu kesamaan: mereka tahu bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah segala-galanya bagi mereka. Kedatangan-Nya yang pertama memberi makna bagi segala sesuatu. Kedatangan-Nya yang kedua akan menuntaskan setiap perkara. Sejak kekekalan Allah Bapa telah merencanakan kedatangan Anak-Nya. Sang Anak dengan taat mengikuti naskah yang disusun Bapa. Allah Roh Kudus senantiasa memberitahukan hal ini kepada dunia melalui para juru bicara manusia. Para rasul “tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika [mereka] memberitahukan … kuasa dan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus” (2Ptr. 1:16). Sebagai saksi mata, mereka memberikan kepada kita fakta-fakta yang pasti “tentang segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus, sampai pada hari Ia terangkat. Sebelum itu Ia telah memberi perintah-Nya oleh Roh Kudus kepada rasul-rasul yang dipilih-Nya” (Kis. 1:1-2). Namun, kesaksian mata para rasul ini hanyalah salah satu dari dua kesaksian yang kita miliki untuk menguatkan dan meneguhkan iman kita. “Kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi” (2Ptr. 1:19). Kita memiliki nubuat yang telah digenapi.
Nubuat memberitakan dan mengantisipasi; karena itulah ada ungkapan nabi memberitakan dan nabi menubuatkan. Ketika nubuat memberitakan, ia kokoh seperti batu karang.1 Nubuat merangkum kebenaran-kebenaran agung tentang dosa manusia dan kasih karunia Allah. Namun, ketika nubuat mengantisipasi, ia belum lengkap, meskipun tetap sama kokohnya. Nubuat menuntut penggenapan. Sebelum Yesus lahir, hidup dan karya-Nya masih merupakan sesuatu yang “belum terjadi”. Bagi para nabi cukuplah percaya bahwa kasih Allah, yang belum dinyatakan dalam segala kepenuhannya, sama pastinya dengan keberadaan Allah itu sendiri.
Namun, baik Musa, Yesaya, maupun Daud tidak memiliki gambaran yang lengkap. Ketika orang-orang ini bernubuat tentang seorang Juruselamat yang belum datang, iman mereka sedang menjangkau ke depan. Para nabi rindu melihat dan mendengar Juruselamat mereka dalam pernyataan-Nya yang penuh. Dalam hikmat-Nya Allah membiarkan kerinduan para nabi itu tidak terpenuhi. Apakah ini berarti bahwa perkataan para nabi hanyalah ocehan yang mengawang-awang dan tidak berhubungan satu sama lain? Tidak. Musa, Yesaya, Daud, dan nabi-nabi lainnya bukanlah orang-orang yang meraba-raba dalam gelap dan berpegang pada harapan kosong. Roh Kristus bekerja di dalam mereka. Keselamatan itulah yang “diselidiki dan diteliti oleh nabi-nabi” Perjanjian Lama: “mereka meneliti saat yang mana dan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus, yang ada di dalam mereka” (1Ptr. 1:10-11).
Nubuat dari Allah lebih dari sekadar ramalan seorang peramal cuaca tentang cuaca esok hari. Perkataan seorang nabi diukur dengan sebuah ujian sederhana, yang diberikan dalam Ulangan 18:14-22, khususnya ayat 21 dan 22. Jika seorang nabi mengantisipasi dengan tepat, maka Allah telah berfirman. Namun, jika suatu pesan diberitakan dalam nama TUHAN dan pesan itu tidak terjadi, Allah tidak menyertai nabi itu dan perkataan nabi itu tidak boleh dipercayai. Dari tahun ke tahun Allah menyusun sebuah mozaik tentang apa yang akan datang, satu nubuat demi satu nubuat. Akhirnya, cukup banyak yang tersedia sehingga orang-orang beriman dapat melihat Yesus sebagaimana adanya ketika Ia datang.
Yesus sendiri adalah seorang nabi. Namun, karena Ia adalah sang Nabi, Ia berbeda dari nabi-nabi lainnya. Seperti mereka, Ia memberitakan. Tidak seperti mereka, Ia menggenapi. Yesus tahu siapa diri-Nya dan untuk apa Ia datang. Penulis surat Ibrani memberi tahu kita bahwa “ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata: … ‘Sungguh, Aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku’” (Ibr. 10:5,7; dikutip dari Mzm. 40:7-9). Ia adalah Allah dalam daging manusia, saksi yang sempurna untuk menyatakan kasih Allah yang sempurna. Ia tahu bahwa Dialah yang telah diantisipasi oleh para nabi. “Janganlah kamu menyangka,” kata Yesus, “bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Mat. 5:17). Yesus ingin dunia tahu bahwa Dialah peneguhan dari segala sesuatu yang telah ditulis oleh para nabi. Dalam perjalanan ke Emaus Yesus “menjelaskan … apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci” (Luk. 24:27). Yesus mulai dari Musa dan membahas semua nabi. Ia memiliki cukup waktu untuk melakukannya. Perjalanan sejauh sebelas kilometer dari Yerusalem ke Emaus mungkin memakan waktu beberapa jam. Pada petang hari Paskah Yesus mengingatkan lingkaran dalam murid-murid-Nya bahwa “harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur” (Luk. 24:44). Sebelumnya Ia telah berkata dengan tegas, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi” (Mat. 5:18).
Apakah para murid merasa mudah untuk menghubungkan nubuat dengan penggenapannya? Tidak serta-merta! Yesus menegur para pengikut-Nya: “betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi!” (Luk. 24:25). Seperti para nabi, para rasul pun membutuhkan Roh Kristus untuk membuka pikiran mereka. Namun, begitu hubungan antara nubuat dan Tuhan Yesus Kristus dipahami, penggenapan nubuat menjadi kekuatan yang berharga dan penuh kuasa dalam pengajaran para rasul. Rasul Paulus menulis: “Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci” (Rm. 15:4). Petrus memandang nubuat yang telah digenapi sebagai “pelita yang bercahaya di tempat yang gelap” (2Ptr. 1:19).
Perjanjian Baru dipenuhi kutipan dan kiasan dari Perjanjian Lama yang mempertemukan Yesus dengan nubuat. Cara para rasul menggunakan Perjanjian Lama dapat bervariasi. Matius dan para penulis Injil lainnya puluhan kali menarik perhatian pada nubuat dan penggenapannya dengan ungkapan pembuka seperti “supaya genaplah yang difirmankan oleh nabi” atau “sebab ada tertulis”. Ungkapan-ungkapan ini diikuti oleh kutipan langsung. Terdapat lebih dari empat puluh kutipan semacam itu dalam kitab-kitab Injil dan Kisah Para Rasul. Petrus dan Yohanes mengutip Mazmur 118:22 dalam Kisah Para Rasul 4:11, “batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan – yaitu kamu sendiri –, namun ia telah menjadi batu penjuru”, untuk menegaskan kepada Mahkamah Agama apa yang telah dilakukan orang Yahudi dan apa yang telah Allah jadikan dari perbuatan itu. Stefanus dalam Kisah Para Rasul 7 menggunakan kisah-kisah sejarah Perjanjian Lama untuk membela diri terhadap tuduhan bahwa ia menentang hukum Taurat dan Bait Allah. Rekannya sesama diaken, Filipus, memberikan penafsiran Yesaya 53 yang berpusat pada Kristus kepada sida-sida dari Etiopia (Kis. 8:32-33). Selain kutipan langsung, Perjanjian Baru juga menggemakan Perjanjian Lama dalam pilihan kata dan ungkapannya. Contoh yang baik adalah suara dari surga yang terdengar ketika Yesus dimuliakan di atas gunung (Mat. 17:5). “Inilah Anak yang Kukasihi” diambil dari Mazmur 2:7; “kepada-Nyalah Aku berkenan” berasal dari Yesaya 42:1; dan kata-kata penutupnya, “dengarkanlah Dia”, berasal dari Ulangan 18:15.
Bagaimana dengan kita, yang hidup di antara kedatangan Yesus yang pertama dan yang kedua? Kita memiliki Firman para rasul sebagai kesaksian yang tak terbantahkan tentang Yesus dalam sejarah. Iman kita, yang lahir dari Firman, dikuatkan setiap kali kita mendengar kesaksian Kitab Suci tentang kelahiran, kematian, kebangkitan, dan kenaikan Tuhan kita. Kita percaya, meskipun Yesus tidak bersama kita secara jasmani seperti dahulu Ia bersama murid-murid-Nya. Mengapa kita percaya? Karena Roh Kristus meyakinkan kita bahwa Yesus hidup, mati, dan bangkit kembali bagi kita.
Sebagian orang mungkin berkata, ada tokoh-tokoh lain yang mengklaim suatu misi rohani bagi diri mereka. Mereka juga tokoh sejarah! Bagaimana dengan Buddha Gautama dan Muhammad? Bagaimana dengan Zoroaster dan Konfusius? Bagaimana dengan Joseph Smith dan David Koresh? Agama-agama non-Kristen telah menuntut jiwa manusia atas dasar etika, karisma, ketajaman pikiran, atau kepekaan moral yang tinggi dari orang-orang luar biasa yang muncul sesekali dalam sejarah. Kekristenan berbeda. Kekristenan adalah pernyataan yang benar dari Allah yang benar melalui seorang manusia sejati yang kedatangan-Nya telah diantisipasi oleh para juru bicara yang diilhami Allah sejak awal sejarah. Tuhan Yesus Kristus itu unik. Ia adalah Firman yang menjadi manusia, sebagaimana dinyatakan dalam pasal pertama Injil Yohanes. Agama-agama buatan manusia mendefinisikan Allah dengan kata-kata manusia, yang diucapkan oleh lidah manusia. Hanya Allah yang mendefinisikan diri-Nya sendiri. Dialah “AKU ADALAH AKU” dalam Keluaran 3:14. Nubuat-nubuat tentang Firman yang menjadi manusia mempersiapkan panggung bagi kehidupan Yesus yang unik. Kesaksian para rasul menutup rapat pintu bagi keraguan apa pun bahwa Ia unik. “Kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi”, dan kepada kita dikatakan: “Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap” (2Ptr. 1:19).
Namun, kini timbul pertanyaan: bagaimana kita memperhatikan para nabi ketika mereka berbicara tentang Tuhan Yesus Kristus? Bagaimana kita menjaga agar pelita kebenaran nubuat tetap menyala? Karena natur kita yang berdosa berperang melawan Roh Kristus di dalam kita, kita dapat mengajukan pertanyaan yang lebih tepat: Bagaimana kita menjaga diri agar tidak memadamkan terang nubuat?
Mengabaikan hubungan antara para nabi dan para rasul akan memadamkan terang nubuat. Kitab Suci adalah satu kesatuan. Seperti kedua mata di kepala kita, masing-masing perjanjian melihat Kristus. Yang satu mengantisipasi. Yang lain menggenapi. Bersama-sama keduanya memberi kita “persepsi kedalaman” rohani. Nubuat-nubuat Perjanjian Lama bagaikan benang-benang sebuah permadani besar atau bagaikan sapuan-sapuan cat di atas kanvas seorang pelukis. Jika Anda menempelkan hidung pada karya seni itu, tidak banyak yang tampak jelas. Mundurlah sedikit, maka pemandangan itu tampak nyata dan menakjubkan. Ketika kita mundur sedikit dan memperhatikan baik nubuat maupun penggenapannya, kita dapat bersama nabi Yesaya dan Rasul Paulus berkata, “Mereka, yang belum pernah menerima berita tentang Dia, akan melihat Dia, dan mereka, yang tidak pernah mendengarnya, akan mengertinya” (Rm. 15:21; Yes. 52:15).
Cara lain untuk memadamkan terang nubuat adalah menggunakan Perjanjian Lama untuk mendefinisikan Perjanjian Baru, alih-alih sebaliknya. Kita tahu bahwa salah satu mata kita lebih dominan. Demikian pula halnya dengan Kitab Suci. Mengenai hubungan perjanjian yang ditetapkan Allah dengan Israel di Gunung Sinai, Perjanjian Baru menyatakan, “Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya” (Rm. 10:4). Pembenaran orang berdosa oleh Allah melalui iman tanpa perbuatan adalah inti persoalannya. Kisah Perjanjian Lama tentang Israel yang tidak setia adalah satu bukti raksasa bahwa manusia tidak mampu memegang janji kesetiaan kepada Allah. Yesus tidak datang untuk menjadi pemberi hukum yang baru dan menempatkan umat manusia sekali lagi di bawah kuk. Sebaliknya, Ia datang sebagai satu-satunya manusia dalam seluruh sejarah yang dapat menjadi kudus dan tetap kudus. Ia melakukannya supaya Allah dapat memperhitungkan kebenaran Anak-Nya sebagai karunia cuma-cuma bagi semua orang. Firman nubuat bagaikan bingkai yang indah di sekeliling lukisan Juruselamat yang elok. Firman itu adalah tatahan yang megah bagi permata kehidupan Kristus yang sempurna dan berkilauan.
Kitab Suci memberikan ilustrasinya sendiri. Perjanjian Lama adalah bayangan, sedangkan Perjanjian Baru adalah wujud yang sebenarnya. Paulus mengatakannya dalam Kolose 2:17 ketika ia membahas ketaatan seremonial Perjanjian Lama: “semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus.”2 Penulis surat Ibrani (10:1) membahas korban-korban darah Perjanjian Lama, sebagaimana diperintahkan Allah melalui Musa. Korban-korban semacam itu hanyalah “bayangan saja dari keselamatan yang akan datang, dan bukan hakekat dari keselamatan itu sendiri”.3
Kebenaran Perjanjian Lama tersingkap dalam Perjanjian Baru. Perkataan para nabi adalah kuncup. Seluruh bunga sudah ada di dalam kuncup, tetapi kebenaran itu masih terbungkus rapat dan sebagian tersembunyi. Kebenaran itu tidak terlihat atau dihargai sepenuhnya sampai bunga itu mekar. Yesus adalah bunga yang mekar itu.
Cara lain lagi untuk memadamkan kuasa kesaksian nubuat adalah mengutak-atik teks. Firman adalah kata terakhir. Penulis pertama dan terakhir Kitab Suci, Musa (Ul. 4:2; 12:32) dan Yohanes (Why. 22:18-19), dengan sungguh-sungguh memperingatkan agar tidak mengutak-atik Firman Allah. Kita tidak boleh menemukan sesuatu tentang Kristus dalam berita para nabi yang menambahi apa yang dengan jelas diberitakan oleh para rasul. Kita juga tidak boleh mengurangi dari para nabi seluruh cakupan wawasan yang diilhamkan, yang mereka sumbangkan atas dorongan Roh bagi rahasia Kristus.
Seberapa banyak bagian Perjanjian Lama yang merupakan nubuat? Seluruhnya? Sebagian besar? Beberapa bagian? Hanya bagian-bagian yang dengan jelas diidentifikasi sebagai nubuat dalam Perjanjian Baru? Cara kita menjawab pertanyaan ini berpengaruh terhadap penafsiran.
Paulus menegaskan bahwa rumah Allah “dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru” (Ef. 2:20). Dengan demikian Paulus mengajarkan bahwa dua kelompok penulis telah meletakkan dasar iman kita. Para rasul adalah saksi. Tetapi demikian pula para nabi. Para rasul tahu bahwa nubuat tidak terbatas pada enam belas nabi penulis kitab (Yesaya sampai Maleakhi) yang langsung kita samakan dengan nubuat. Penulis surat Ibrani mengatakan, “Musa memang setia dalam segenap rumah Allah sebagai pelayan untuk memberi kesaksian tentang apa yang akan diberitakan kemudian” (Ibr. 3:5). Rasul Petrus menegaskan, “semua nabi yang pernah berbicara, mulai dari Samuel, dan sesudah dia, telah bernubuat tentang zaman ini… Kamulah yang mewarisi nubuat-nubuat itu…” (Kis. 3:24-25). Tentang Daud, Petrus berkata, “ia adalah seorang nabi dan ia tahu, bahwa Allah telah berjanji kepadanya dengan mengangkat sumpah, bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya. Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias…” (Kis. 2:30-31). Musa, Samuel, dan Daud adalah wakil yang tepat bagi para abdi Allah yang berbicara dari ketiga bagian Alkitab Ibrani, yaitu Taurat, Kitab Para Nabi, dan Kitab-kitab (Tulisan-tulisan).
Apakah terlalu berlebihan jika dikatakan bahwa seluruh Perjanjian Lama adalah nubuat? Bukankah tiga puluh sembilan kitab Perjanjian Lama memuat sejarah, biografi, pengajaran moral, mimpi, percakapan, dan masih banyak lagi? Ya, memang demikian. Segala unsur kemanusiaan ini mengantisipasi kemanusiaan Yesus yang penuh, khususnya perincian-perincian yang tidak tercatat, yang menurut Rasul Yohanes dapat memenuhi seluruh dunia dengan kitab-kitab (Yoh. 21:25). Kita berpegang bahwa “dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan” (Kol. 2:9). Lagi pula, kita percaya kepada Rasul Paulus ketika ia berkata, “kamu telah dipenuhi di dalam Dia” (Kol. 2:10). Tidak, tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa setiap bagian Kitab Suci yang diilhamkan dengan cara tertentu menunjuk kepada Kristus dan bahwa melalui Firman Allah, Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, kita dapat memperoleh kepenuhan yang dijanjikan, yang Allah kehendaki kita miliki di dalam Kristus. Kita mendapat dorongan ini: “hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, … Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus” (2Tim. 3:14-15). Luther menulis dalam tafsirannya atas 2 Samuel 23:1-5:
Kami orang Kristen memiliki makna dan maksud Alkitab karena kami memiliki Perjanjian Baru, yaitu Yesus Kristus, yang dijanjikan dalam Perjanjian Lama dan yang kemudian muncul serta membawa bersama-Nya terang dan makna sejati Kitab Suci… Sebab itulah pokok terpenting yang menjadi sandaran segala sesuatu. Siapa pun yang tidak memiliki atau tidak menghendaki dengan benar dan sungguh-sungguh Manusia ini, yang disebut Yesus Kristus, Anak Allah, yang kami orang Kristen beritakan, hendaknya menjauhkan tangannya dari Alkitab—itulah nasihat saya. Ia pasti akan menjadi sia-sia. Makin banyak ia belajar, makin buta dan makin bodoh ia jadinya, entah ia orang Yahudi, Tatar, Turki, Kristen, atau apa pun sebutan yang ia kehendaki bagi dirinya.4
Tidak perlu setiap bagian Perjanjian Lama bersifat nubuat dalam kadar yang sama. Beberapa hal yang dikatakan para nabi akan menonjol seperti lampu sorot. Yang lain hanya akan memberikan bayangan samar. Sumbangan para nabi tidak jauh berbeda dengan sumbangan anggota-anggota yang membentuk gereja, tubuh Kristus. Setiap anggota adalah bagian dari tubuh, tetapi tidak semua anggota adalah mata atau telinga. Beberapa anggota menjalankan fungsi yang lebih kecil, namun tetap penting. Bingkai tempat Perjanjian Lama menempatkan Kristus memiliki banyak sudut. Tatahannya memiliki banyak sisi. Kuncupnya memiliki banyak kelopak. Bayangannya memiliki banyak tepi.
Selalu bijaksana untuk memulai dengan bagian-bagian yang diidentifikasi oleh Perjanjian Baru sebagai penggenapan nubuat. Inilah lampu-lampu sorot yang menonjol itu. Inilah terang yang dengannya kita belajar menyelidiki bagian Perjanjian Lama lainnya dengan cermat. Nubuat-nubuat yang telah diidentifikasi memperlihatkan kepada kita Roh Kudus yang bekerja sebagai penafsir. Satu hal akan segera menarik perhatian kita. Sebagian besar kutipan berkaitan dengan pribadi dan karya Yesus. Kadang-kadang kita langsung menangkap hubungan antara nubuat dan penggenapannya. Kadang-kadang penafsiran Roh Kudus tidak seperti yang kita harapkan. Hal ini menegaskan mengapa para nabi harus menyelidiki nubuat-nubuat mereka dengan tekun.
Nubuat-nubuat yang dikutip dalam Perjanjian Baru menyentuh segala aspek tentang Juruselamat, seperti siapa Yesus, untuk apa Yesus datang, di mana Ia akan tampil, kapan dan bagaimana rencana Allah akan dilaksanakan, dan mengapa Yesus begitu penting. Beberapa contoh akan memperjelasnya. Menurut Daud, Yesus adalah Tuhan Allah (Mzm. 110:1; Mat. 22:44) dan manusia sejati (Mzm. 8:5-7; Ibr. 2:6-8), namun Ia tanpa dosa menurut Yesaya (53:9; 1Ptr. 2:22). Pelayanan Yesus akan berlangsung di Galilea seperti yang dikatakan Yesaya (8:23–9:1; Mat. 4:15-16).5 Namun, Juruselamat itu akan tampil di Yerusalem menurut Zakharia (13:7; Mat. 26:31). Yesus datang untuk mengajar umat manusia tentang jalan-jalan Allah (Mzm. 78:2; Mat. 13:35), untuk memikul kelemahan dan penyakit manusia (Yes. 53:4; Mat. 8:17), dan untuk menyembuhkan luka-luka mereka seperti yang dinubuatkan Yesaya (53:5; 1Ptr. 2:24). Menurut Zakharia, murid-murid-Nya akan meninggalkan Dia (13:7; Mat. 26:31) dan membiarkan Dia ditikam oleh musuh-musuh-Nya (12:10; Yoh. 19:37). Ia akan tergantung, terkutuk, pada kayu salib (Ul. 21:23; Gal. 3:13).6 Meskipun demikian, tidak satu pun tulang tubuh-Nya akan dipatahkan (Mzm. 34:21; Yoh. 19:36),7 dan tubuh-Nya juga tidak akan membusuk di dalam kubur (Mzm. 16:10; Kis. 2:31). Sebaliknya, Ia akan duduk di sebelah kanan Allah dalam kemuliaan (Mzm. 110:1; Kis. 2:34). Keselamatan akan dinyatakan pada hari-hari terakhir dan disertai pencurahan Roh Kudus (Yl. 2:28-32; Kis. 2:17-21). Selanjutnya, Roh itu akan dicurahkan melalui pemberitaan, menurut Yesaya (61:1-2; Luk. 4:18-19). Dan mengapa ada pencurahan ini? “Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya” (Kis. 10:43).
Setelah kita menuntaskan penelaahan nubuat-nubuat yang secara langsung dihubungkan dengan Yesus, kita mengambil tempat di samping para nabi, yang telah menyelidiki dan meneliti keselamatan itu: “mereka meneliti saat yang mana dan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus, yang ada di dalam mereka” (1Ptr. 1:10-11). Dalam sebuah makalah singkat, hanya dimungkinkan untuk menyajikan contoh dari apa yang dapat ditemukan. Kita akan menggunakan kata-kata Pasal Kedua Pengakuan Iman Rasuli. Pengakuan ini adalah ringkasan ajaran para rasul tentang Yesus. Di samping kata-kata dan frasa Pengakuan Iman yang menggambarkan Yesus, kita akan menghimpun konsep dan tema Perjanjian Lama yang mengantisipasi kebenaran penuh berita Perjanjian Baru.
Kami percaya kepada Yesus. Yesus adalah nama khusus yang dipilih Allah bagi anak Maria (Luk. 1:31).8 Nama itu berarti “TUHAN menyelamatkan”. Perjanjian Lama adalah rangkaian tindakan penyelamatan dari pihak TUHAN: Nuh dan keluarganya dipelihara di dalam bahtera (Kej. 6–9), keturunan Yakub dituntun menyeberangi Laut Teberau (Kel. 14), Israel didukung di atas sayap rajawali ke gunung Allah (Kel. 19:4) dan ke Tanah Perjanjian seperti domba-domba yang dituntun seorang gembala (Mzm. 78:52-55), Bileam si tukang tenung digagalkan dalam misinya untuk mengutuk umat Allah (Bil. 22–24), Yosua di Ayalon ketika matahari berhenti (Yos. 10) dan pada perpisahannya ketika ia mengingat kembali tindakan-tindakan penyelamatan Allah di masa lampau (Yos. 24),9 Gideon yang menang di More hanya dengan segelintir orang (Hak. 7), Samuel yang membalikkan nasib Israel di Eben-Haezer (1Sam. 7), Daud yang merobohkan Goliat (1Sam. 17), Ester pada hari raya Purim, Daniel di gua singa (Dan. 6), dan sisa Israel yang dibawa kembali ke Sion pada zaman Ezra dan Nehemia.
Kami percaya kepada Yesus Kristus. Kristus berarti “yang diurapi”. Yesus dipanggil untuk menggenapi segala sesuatu yang telah dicoba, tetapi gagal, dilakukan oleh orang-orang yang diurapi dalam Perjanjian Lama. Keimaman Harun melayani kebutuhan rohani umat Allah di Silo selama hampir 400 tahun. Para imam diurapi untuk mempersembahkan korban (Ibr. 5:1), untuk membedakan apa yang tahir secara seremonial dari apa yang najis (Im. 10:10), dan untuk mengajar umat (Im. 10:11; Mal. 2:7). Namun, para imam gagal memenuhi standar kesempurnaan Allah. Para imam adalah orang berdosa, mulai dari Harun, yang membuat anak lembu emas (Kel. 32:1-6), sampai anak-anak Eli, yang mencemarkan tempat kudus (1Sam. 2:12-17,22,25).10
Allah mengurapi raja-raja untuk menggembalakan bangsa itu (2Sam. 5:2; 7:7) dan menjadi penjaga kebenaran Allah (Ul. 17:18-20). Beberapa raja, seperti Daud dan Salomo, melayani kebutuhan rohani umat, tetapi semuanya memiliki kelemahan. Dosa Daud dengan Batsyeba dan pembunuhan Uria yang dilakukannya memicu serangkaian pemberontakan yang mengoyak sendi-sendi kerajaan. Dengan segala hikmatnya, Salomo tidak memerintah dengan baik ketika ia melanggar tiga larangan yang ditetapkan oleh Musa (Ul. 7:25) dan Yosua (Yos. 23:7,12), yaitu larangan kawin campur, larangan mengadakan perjanjian dengan orang Kanaan, dan larangan penyembahan berhala. Saul, raja pertama Israel, bunuh diri (1Sam. 31:4). Zedekia, raja terakhir Yehuda, dibutakan setelah menyaksikan keturunan raja dibantai, sementara Yerusalem dan Bait Allah membara (2Raj. 25:7).
Para nabi diurapi untuk mengatakan kebenaran, seluruh kebenaran, dan tidak lain daripada kebenaran (1Raj. 17:24; 22:16). Pada tahun-tahun penutup Perjanjian Lama para nabi tampil menjulang. Mereka memberitakan dosa dan mewartakan kasih karunia supaya Israel yang bejat dan menyembah berhala tidak menderita kutuk hukum Taurat yang sangat layak mereka terima. Namun, para nabi tidak dapat menghentikan kemerosotan Israel menuju kehancuran. Kegagalan mereka, dan kegagalan semua “kristus” Perjanjian Lama, mendidik Israel untuk mengharapkan kedatangan Kristus yang lebih baik.
Kami percaya kepada Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal… Atas nama Allah, nabi Hosea berkata: “Ketika Israel masih muda, Kukasihi dia, dan dari Mesir Kupanggil anak-Ku itu. Makin Kupanggil mereka, makin pergi mereka itu dari hadapan-Ku” (Hos. 11:1-2). TUHAN memilih Israel dari antara segala bangsa untuk menunjukkan kerinduan-Nya untuk memasukkan umat manusia ke dalam keluarga-Nya. Melalui perjanjian yang diadakan di Sinai, Bapa surgawi mengkhususkan Israel sebagai anak sulung di antara segala bangsa (Kel. 4:22; Yer. 31:9).
Kebenaran ini diperbarui pada setiap generasi melalui penebusan anak sulung (Kel. 13:11-13). Ketika mereka meninggalkan Mesir, anak-anak sulung dari suku-suku itu ditebus dengan mengkhususkan satu orang dari suku Lewi bagi setiap anak sulung. Karena jumlah orang Lewi tidak mencukupi, beberapa anak sulung harus ditebus dengan lima syikal perak (Bil. 3:11-13,41). Uang terus digunakan untuk menebus anak sulung pada generasi-generasi berikutnya.11 Orang Lewi tetap menjadi “harga tebusan” sepanjang sisa zaman Perjanjian Lama. Tugas khusus mereka adalah melayani di mezbah, membakar korban, dan mengajarkan hukum Taurat (Ul. 33:8-10). “Anak sulung” juga merupakan istilah yang dipakai untuk menggambarkan ahli waris takhta Daud, yaitu Mesias (Mzm. 89:28).
Sekuat apa pun konsep anak sulung dalam Perjanjian Lama, baik orang Lewi maupun orang Israel tidak dapat berbuat lebih daripada mengantisipasi Anak Allah yang tunggal. Israel tidak dapat membalas kasih Bapa yang sempurna dengan kasih sempurna dari diri mereka sendiri. Sejak awal Israel terbukti sebagai anak yang hilang. “Nenek moyang kami di Mesir tidak mengerti perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib, tidak ingat besarnya kasih setia-Mu, tetapi mereka memberontak terhadap Yang Mahatinggi di tepi Laut Teberau” (Mzm. 106:7). Pasal-pasal pembuka kitab Hakim-hakim menceritakan bagaimana generasi demi generasi menyimpang dari iman. Kegagalan “rohaniwan” Lewi di Israel disorot dalam Hakim-hakim 17 sampai 19. Kemudian, sepuluh suku mencemarkan hak kesulungan mereka dengan sujud menyembah anak lembu (1Raj. 12:28-30), sesuatu yang pernah dilakukan nenek moyang mereka di Gunung Sinai (Kel. 32:4,8). Kerajaan Israel dan Yehuda terbukti terlalu religius. Mereka memiliki ritual, korban, dan ilah yang berlimpah. Namun, para nabi mengecam agama yang diperanakkan oleh banyak bapa ini. Agama itu telah menyimpang dari perjanjian Bapa yang esa. Agama itu tidak memiliki kasih seorang bapa. Sesungguhnya, makin banyak Bapa mencurahkan kasih-Nya kepada Israel, makin jauh “anak” pilihan-Nya itu menyimpang dari Dia. Israel yang sesat menegaskan bahwa manusia berdosa tidak mampu memegang perjanjian dengan Allah. Ketidakmungkinan ini adalah tema pasal-pasal pembuka surat Paulus kepada jemaat di Roma.
Yesus Kristus, Anak Tunggal Bapa, adalah satu-satunya manusia yang menggenapi hukum Taurat dengan sempurna (Ibr. 4:15; Rm. 5:17). Dialah anak sulung sejati (Rm. 8:29) dari segala ciptaan dan setiap makhluk (Kol. 1:15-16), dan juga yang pertama bangkit dari antara orang mati (Why. 1:5). Melalui karya-Nya Yesus menciptakan “jemaat anak-anak sulung, yang namanya terdaftar di sorga” (Ibr. 12:23). Matius (2:15) menunjukkan kepada kita bagaimana Bapa surgawi memanggil Anak-Nya yang sulung dan tunggal dari Mesir, sama seperti dahulu Ia memanggil Israel. Anak ini berhasil di mana Israel dan orang Lewi gagal. Yesus adalah “terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain” dan yang “menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel” (Luk. 2:32).
Bersambung di Bagian 2 →
Catatan
1 Bahasa Inggris menggunakan bentuk waktu futur (future tense) untuk mengungkapkan apa yang diantisipasi. Tata bahasa Ibrani tidak demikian. Sistem verba bahasa Ibrani bekerja dengan konsep kepastian dan ketidakpastian. Dari keduanya, kepastian merupakan sarana yang lebih disukai untuk mengungkapkan nubuat.
2 Kata Yunani σκιά, “bayangan”, adalah citra yang timbul karena terhalangnya cahaya, yang memberikan garis bentuk tanpa perincian, sedangkan kata Yunani σῶμα, “wujud”, adalah tubuh fisik.
3 Di sini kata Yunani untuk “hakekat” adalah εἰκών, gambar itu sendiri sebagai lawan dari sekadar kemiripan.
4 Dikutip dalam Oswald & Robbert, Luther as Interpreter of Scripture (Concordia, 1982), hlm. 121.
5 Yesaya mengantisipasi bahwa terang Mesias akan muncul di tanah Zebulon dan Naftali, yaitu Galilea. Matius mengutip Yesaya ketika Yesus pindah dari Nazaret (di Zebulon) ke Kapernaum (di Naftali).
6 Salib sebagai sarana keselamatan, bukan sebagai kehinaan, juga dinubuatkan. Musa meninggikan ular tembaga di padang gurun untuk menyelamatkan orang-orang yang sekarat (Bil. 21:8-9). Yesus menerapkan hal ini pada karunia hidup kekal yang dikerjakan melalui penyaliban-Nya (Yoh. 3:14-15).
7 Tulang-tulang anak domba Paskah tidak boleh dipatahkan (Kel. 12:46; Bil. 9:12).
8 Sepanjang abad-abad menjelang kelahiran Yesus, Allah turun tangan untuk memberikan atau mengganti nama, sering kali berkaitan dengan peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah keselamatan. TUHAN memberikan nama baru kepada Abraham, “bapa sejumlah besar bangsa” (Kej. 17:5), kepada Sara, “putri [raja-raja]” (Kej. 17:15), dan kepada Yakub, “ia yang bergumul [dengan Allah] dan menang” (Kej. 32:28). Nama banyak orang percaya dalam Perjanjian Lama berupa kalimat pendek yang merupakan kesaksian, misalnya Elia, “Allahku adalah TUHAN.” Seorang malaikat memberi nama kepada perintis jalan bagi Yesus, “Yohanes”, yang berarti “Allah itu murah hati” (Luk. 1:13,60).
9 Dalam perpisahannya Yosua bertanya kepada Israel apakah mereka ingin memegang perjanjian Allah. Ketika mereka menjawab ya, Yosua menanamkan kepada mereka bahwa keberhasilan hanya akan datang melalui campur tangan Allah. Yosua menyebutkan panggilan Abraham keluar dari penyembahan berhala, pelarian Israel dari Mesir, digagalkannya Bileam, dan penaklukan Kanaan.
10 Alkitab menggambarkan para pemimpin dengan jujur, sesuatu yang jarang dilakukan oleh para pemimpin kuno di negeri-negeri asing. Kegagalan para pemimpin Israel sengaja memberikan kontras dengan keberhasilan Yesus yang total, Dia yang diurapi dengan sempurna.
11 Menurut Misyna, Berakot, viii, 8, hal ini dilakukan pada hari ke-40 setelah seorang anak laki-laki lahir. Maria dan Yusuf kemungkinan besar mengikuti kebiasaan ini ketika mempersembahkan Yesus, Luk. 2:27.

0 Komentar